Posted by: dEn t0w0 on: 14 November 2009
Gue mau nyoba ikut andil aja nih mempromosikan Liga Indonesia (Ligina) atau sekarang yang lebih di kenal dengan nama Djarum Indonesian Super League (ISL). Liga yang kata orang Indonesia nya sendiri ngga bermutu, tapi buat gue pribadi asik-asik aja nonton pertandingan ISL apalagi langsung dari stadion. Sepanjang gue mengamati Ligina kayanya ANTV jadi stasiun televisi yang paling peduli sama Ligina, karena sejak dahulu ANTV rutin menyiarkan pertandingan-pertandingan Ligina baik secara langsung maupun tunda.
Sebenarnya sebelum Ligina, dahulu negeri ini punya Liga Perserikatan pesertanya adalah klub-klub ‘plat merah’ di seluruh negeri ini. Dari Liga itu muncul beberapa kekuatan besar per-sepakbola-an Indonesia seperti PSMS Medan, Persija Jakarta Pusat, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Ujung Pandang dan Persipura Jayapura.
Setelah itu di era awal 80-an hingga awal 90-an di gelar GALATAMA (Liga Sepak Bola Utama) yang pesertanya adalah klub-klub ‘swasta’ seperti Pelita Jaya Jakarta, Arema Malang, Warna Agung (bubar), Yanita Utama Bogor (bubar), Tiga Berlian (Mitsubishi), Barito Putra Banjarmasin, Semen Padang, Medan Jaya, Pupuk Kaltim (Sekarang Bontang FC), Gelora Dewata Bali (Sekarang DELTRAS), Bandung Raya (bubar), Assyabab Salim Group Sidoarjo (ASGS/ bubar), Arseto Solo (bubar), Mataram Indocement Yogyakarta (pindah ke Cilegon jadi PSKS lalu Cilegon FC), NIAC Mitra (sempat berganti nama menjadi Mitra Surabaya sebelum bubar), Petrokimia Putra Gresik (melebur dengan Persegres menjadi Gresik United), Putra Samarinda (PUSAM sekarang menjadi PERSISAM) dsb.
| Tahun | Juara |
| 1980 | Warna Agung |
| 1982 | NIAC Mitra |
| 1983 | NIAC Mitra |
| 1984 | Yanita Utama |
| 1985 | Tiga Berlian |
| 1986 | Tiga Berlian |
| 1988 | NIAC Mitra |
| 1989 | Pelita Jaya |
| 1990 | Pelita Jaya |
| 1992 | Arseto |
| 1993 | Arema |
| 1994 | Pelita Jaya |
Parade Juara GALATAMA
Lalu Liga Indonesia Profesional pertama kali di gelar tahun 1994/1995 (Liga Dunhill) saat itu memiliki format liga yang terbagi dalam dua wilayah yakni wilayah barat dan wilayah timur. Pada pertandingan final yang di gelar stadion Senayan, gol semata wayang Sutiono Lamso membawa Persib Bandung menjadi juara Ligina perdana sementara Petrokimia Putra Gresik yang saat itu bertabur bintang harus puas di posisi runner-up.
Widodo Cahyono Putro (Pertokimia) menggondol gelar pemain terbaik dan Peri Sandria bomber Bandung Raya menyabet gelar top skor dengan 34 gol (rekor hingga kini). Waktu itu Persib memiliki materi pemain 100% pemain lokal nama-nama Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara dan tentunya sang pahlawan Sutiono menjadi andalan Indra Thohir pembesut Persib kala itu.
Musim kedua 1995/1996 (format liga masih sama) gelar juara kembali di rebut klub asal Bandung, yakni Bandung Raya setelah di final menaklukan PSM Ujung Pandang. Kedua tim bermateri bintang saat itu, di bawah asuhan Henk Wullems pelatih asal Belanda Bandung Raya mengandalkan duet Peri Sandria dan Dejan Gluscevic pemain asal Montenegro yang kemudian menjadi top skorer. Setelah musim sebelumnya bersama Petrokimia hanya menjadi runner-up, Jacksen F Tiago pemain asal Brasil ini harus kembali gigit jari bersama PSM. Ronny Wabia asal Persipura menjadi pemain tebaik di musim ini.
Musim ketiga (format liga juga masih sama) tahun 1996/97, akhirnya Jacksen F Tiago berhasil merasakan gelar juara ligina, kali ini bersama Persebaya Surabaya ia berhasil membalas kekalahannya dari Bandung Raya saat itu bernama Mastrans Bandung Raya (MBR). Jacksen pun menyabet sepatu emas dengan torehan 26 gol, tapi MBR menempatkan libero mereka Nur’ Alim sebagai best player.
Di tiga pagelaran awal pemain asing yang bisa di bilang papan atas saat itu adalah Jacksen F Tiago striker Persebaya (sebelumnya di Petrokimia dan PSM), Dejan Gluscevic striker Bandung Raya (sebelumnya bermain di Pelita Jaya), Darryl Sinerine penjaga gawang Petrokimia, Maboang Kessack gelandang dan Roger Milla striker Pelita Jaya, gelandang Abel Campos dan striker Vata Matanu Garcia jadi bintangnya Gelora Dewata, ada juga gelandang Carlos de Mello yang identik di tiga klub asal Surabaya (Persebaya, Mitra Surabaya dan ASGS).
Musim ketiga tahun 1997/1998 kompetisi harus berhenti karena pada saat itu ada peristiwa REFORMASI dimana terjadi kerusuhan dan penjarahan serta aksi massa besar-besaran di negeri ini. Persikota Tangerang sedang berada di papan atas saat itu.
Musim 1998/1999 juga dengan dalih situasi keamanan yang belum kondisif sehingga pihak kepolisian banyak mengeluarkan ketetapan pelarangan pertandingan liga, sehingga liga pun tidak rampung. Kabar buruk pun menerpa, saat klub Mastran Bandung Raya di nyatakan pailit.
Musim 1999/2000 liga kembali di gelar,. Pertandingan final yang biasanya di gelar di Jakarta kali ini di gelar di Manado (Stadion Klabat). Tugiyo menjadi pahlawan kemenangan PSIS Semarang atas gol tunggalnya ke gawang Persebaya Surabaya saat itu. Tercatat Alain Mabenda menjadi top skor dengan 12 gol dan kapten PSIS, Ali Sunan menyabet gelar pemain terbaik. Saat itu PSIS bermaterikan I Komang Putra, Bonggo Pribadi, Eko Purjianto, Ali Sunan dan Tugiyo. Persebaya yang bertabur bintang-bintang timnas macam Hendro Kartiko, Sugiyantoro, Anang Ma’ruf, Aji Santoso, Uston Nawawi dan Eri Irianto (Alm) harus puas jadi nomor dua.
Musim 2000/2001 mencuatlah nama Luciano Leandro, gelandang asal Brasil ini bersama Bima Sakti bahu-membahu menghadirkan gelar juara Ligina ke PSM Makassar. Di pertandingan final mereka mengalahkan Fachry Husaini dkk (Pupuk Kaltim Bontang). Kapten timnas kala itu Bima Sakti menyabet gelar pemain terbaik dan Bambang Pamungkas jadi top skor dengan 24 gol.
Kemilau Bambang Pamungkas masih terlihat di musim 2001/2002, terbukti Bepe berhasil membawa Persija menjadi juara di musim ini. PSM harus puas di posisi dua dan gagal mempertahankan gelar juara. Bambang jadi pemain terbaik di pagelaran kali ini, dan striker Barito Putra Sadissou Bako menggondol trofi sepatu emas. Pelatih Persija Ivan Kolev (Bulgaria) terpilih jadi pelatih terbaik.
Musim 2002/2003, Persita Tangerang di favoritkan jadi juara, duet Ilham Jayakesuma dan Zaenal Arief jadi momok lawan-lawan mereka kala itu. Namun Bendol harus mengakui keunggulan strategi pelatih Sergey Dubrovin (Moldova). Melalui pemain andalannya Agus Indra Kurniawan dan Danilo Fernando, klub besutannya Petrokimia Gresik berhasil membungkam Persita di final. Ilham menyabet gelar top skor dan pemain terbaik musim itu, Petro dapet gelar pelatih terbaik atas nama Dubrovin.
Musim 2003/2004 secara mengejutkan tim besutan Jaya Hartono yang baru saja promosi dari divisi satu berhasil menjadi juara di musim ini. Persik Kediri dengan Ebbie Sukore dan Frank Bamidele membungkam tim unggulan PSM yang saat itu punya duet maut Oscar Aravena dan Christian Gonzales. Aravena dapet sepatu emas, dan Persik Kediri dapat gelar pelatih terbaik dan pemain terbaik atas nama penyerangnya Musikan.
Format liga menjadi satu wilayah di musim 2004/2005, dan Persebaya Surabaya berhasil menjadi juara Ligina untuk kedua kalinya dan meneruskan tradisi juara klub-klub asal Jawa Timur. Persebaya jadi tim pertama yang juara dengan format satu wilayah dan tim pertama yang meraih gelar liga kedua kalinya. Di partai terkahir mereka membungkam Persija yang hanya membutuhkan hasil seri saja waktu itu. Namun stadion Gelora 10 November terlalu angker buat Persija. Persija pun melorot ke peringkat tiga di salip Persebaya yang jadi juara dan PSM finish di nomor dua. Kapten PSM Ponaryo Astaman menyabet gelar pemain terbaik, striker Persita Ilham Jayakesuma kembali merebut sepatu emas dan Jacksen F Tiago menjadi pelatih terbaik. Jacksen mencatat sejarah di musim ini, ia mencatatkan diri pernah menjadi juara Ligina saat menjadi pemain dan pelatih.
Karena alasan terkurasnya dana anggaran klub saat menyelenggarakan liga dengan format satu wilayah, PSSI membuat kebijakan untuk mengembalikan format liga dengan dua wilayah. Musim 2005/2006 dengan mengandalkan Christian Carrascao, Persipura menghentikan dominasi klub-klub Jawa Timur. Mereka menjadi juara liga setelah di final menghempaskan Persija 5-3. PSIS yang sedang on fire harus puas di posisi ke tiga. Musim ini Persebaya di kenai sanksi terdegradasi ke divisi III dan sanksi-sanksi lainnya karena menolak bertanding melawan Persija demi alasan keamanan. Bonek Mania pun membuat onar dengan aksi kerusuhan di sekitar senayan. Pelatih Persipura Rahmad Darmawan terpilih sebagai pelatih terbaik, striker PSM Christian Gonzales pun jadi pemain terbaik dan menjadi top skorer liga.
Di musim ini pula di gelar Piala Indonesia atau di kenal dengan nama Copa Indonesia atau Copa Dji Sam Soe, Arema Malang tampil sebagai juara di perhelatan perdana dengan mengalahkan Persija, the dream team yang harus gigit jari di musim 2005/2006 karena kandas di dua pertandingan final Liga dan Copa.
Musim 2006/2007. Persik Kediri secara dramatis menaklukan PSIS Semarang di Final. Christian Gonzales, Danilo Fernando dam Ronald Fagundez jadi andalan Jaya Hartono sementara Daniel Rukito mengandalkan Emmanuel De Porras, M Ridwan dan Maman Abdurrahman. Maman dan Daniel Rukito terpilih sebagai pemain dan pelatih terbaik dan Christian “El-Loqo” Gonzales mempertahankan gelar top skor.
Arema Malang mempertahankan gelar Piala Indonesia di musim 2006/2007. Arema yang di asuh Benny Dollo saat itu mengandalkan Firman Utina. Singo Edan menjadi tim pertama yang berhasil menjuarai Copa Indonesia dua musim berturut-turut.
Musim 2007/2008 adalah musim terakhir liga dengan format wilayah, karena AFC memberi ultimatum kepada PSSI bahwa setelah musim ini harus ada Liga Super di Indonesia. Sriwijaya FC Palembang meraih “double winner” ya mereka berhasil mendulang gelar Liga dan Piala Indonesia. Di Liga mereka mengalahkan PSMS Medan di Final, blunder Markus Harison mewarnai pertandingan ini. Zah Rahan menyabet gelar pemain terbaik, El-Loqo masih mendominasi gelar top skor, Rahmad Darmawan jadi pelatih terbaik. Hingga kini belum ada yang mampu menyamai torehan “double winner” nya Sriwijaya FC.
Di ajang Copa Persipura kembali gigit jari di final keduanya karena tumbang di tangan Sriwijaya FC. Di musim ini Sriwijaya FC memang kerap menampilkan permainan yang apik, di bawah asuhan Rahmad Darmawan Sriwijaya tampil offensif. Namun Persipura juga tampil baik musim ini namun kurang beruntung.
Musim 2008/2009 menjadi sejarah persepakbolaan negeri ini, karena untuk pertama kalinya Liga Super atau Indonesian Super League (ISL) di gelar. Persipura Jayapura menjadi yang terbaik di pagelaran perdana kali ini, mereka mendominasi liga dan sulit di kalahkan. Persipura pun menjadi tim ketiga setelah Persebaya dan Persik yang berhasil menjuarai Liga Indonesia sebanyak dua kali. Tim asal papua lainnya yakni Persiwa Wamena dan Persib Bandung saling kejar mengejar angka di bawah Persipura. Boaz Salossa tampil cemerlang musim ini, Gelar top skorer ia raih bersama El-Loqo yang pindah ke Persib di pertengahan musim.
Di ajang Copa, Persipura yang punya peluang menyamai raihan “double winner” Sriwijaya FC sebelumnya. Malah harus kembali kalah di final ketiga beruntunnya di ajang Copa Indonesia, Persipura kalah WO 3-0 setelah menolak melanjutkan pertandingan kala tertinggal 0-1 setelah Obiora membobol gawang Jandri Pitoy, karena menganggap wasit berat sebelah di pertandingan yang di gelar di Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang.
Musim 2009/2010 ISL kembali di gelar, mari kita doakan semoga saja tidak ada kendala berat selama musim kompetisi ini berlangsung. Sebagai orang Indonesia mari kita sama-sama dukung ISL, cintai ISL karena kalo bukan kita siapa lagi ya ngga. Provinsi Jawa Timur memiliki peserta paling banyak 6 tim yakni Persik Kediri, Persela Lamongan, Arema Malang, Persekabpas Pasuruan, Persebaya Surabaya dan Persema Malang lalu Kalimantan Timur 3 tim yakni Persiba Balikpapan, Persisam Samarinda dan Bontang FC.
| Tahun | Juara |
| 1994/1995 | Persib Bandung |
| 1995/1996 | Bandung Raya |
| 1996/1997 | Persebaya Surabaya |
| 1997/1998 | —————- |
| 1998/1999 | —————- |
| 1999/2000 | PSIS Semarang |
| 2000/2001 | PSM Makassar |
| 2001/2002 | Persija Jakarta |
| 2002/2003 | Petrokimia Gresik |
| 2003/2004 | Persik Kediri |
| 2004/2005 | Persebaya Surabaya |
| 2005/2006 | Persipura Jayapura |
| 2006/2007 | Persik Kediri |
| 2007/2008 | Sriwijaya FC Palembang |
| 2008/2009 | Persipura Jayapura |
Parade Juara LIGINA
| Tahun | Pemain Terbaik | Top Skor |
| 1994/1995 | Widodo C Putro | Peri Sandria |
| 1995/1996 | Ronny Wabia | Dejan Gluscevic |
| 1996/1997 | Nur’Alim | Jacksen F Tiago |
| 1997/1998 | —————- | —————- |
| 1998/1999 | —————- | —————- |
| 1999/2000 | Ali Sunan | Alain Mabenda |
| 2000/2001 | Bima Sakti | Bambang Pamungkas |
| 2001/2002 | Bambang Pamungkas | Sadisso Bako |
| 2002/2003 | Ilham Jayakesuma | Ilham Jayakesuma |
| 2003/2004 | Musikan | Oscar Aravena |
| 2004/2005 | Ponaryo Astaman | Ilham Jayakesuma |
| 2005/2006 | Christian Gonzales | Christian Gonzales |
| 2006/2007 | Maman Abdurrahman | Christian Gonzales |
| 2007/2008 | Zah Rahan | Christian Gonzales |
| 2008/2009 | Boaz Salossa | Boaz Salossa, Christian Gonzales |
Parade Pemain Terbaik dan Top Skor
Recent Comments