Posted by: dEn t0w0 on: 23 March 2009
Mungkin pernah beberapa waktu yang lalu teman-teman mebaca artikel saya di media blog ini atau dimanapun saya pernah menulis. Mungkin juga teman-teman di sekitar saya mendengar berbagai macam omongan dari mulut ini terutama yang ada kaitannya dengan agama dan keTuhan-an. Sebagian besar dari mereka men-judge bahwa apa yang saya tulis dan ucapkan adalah sesat dan menyesatkan, apakah saya peduli?? Sama sekali tidak, karena yang saya cari adalah semata-mata hanyalah Islam yang paling benar murni ajaran Alloh SWT yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bukan yang dicampur aduk oleh ajaran ulama sotoy.
Maka dari itu, sengaja saya memancing dengan tulisan ataupun ucapan agar terjadi sharing, ada orang yang terpancing dengan tulisan ataupun ucapan saya sehingga sudi kiranya membagi ilmunya kepada saya tentang tauhid ke islaman (bidang ilmu yang sangat saya suka disamping filsafat dan teologi). Tapi malah seringnya kebanyakan orang dengan (maaf) “keterbatasan pengetahuan” malah langsung bilang saya “SALAH”.
Apa yang saya lihat dengan mata kepala sekarang ini, sama sekali jujur bahwa logika dan perasaan saya belum menemukan apa yang saya cari (kemurnian islam). Bahkan diantara mereka ada yang membuat saya tertawa geli, karena apa?? Ya karena mereka berasa udah paling benar namun manakala mempertanggung jawabkan kebenarannya di depan saya, kebanyakan mereka sama saja seperti saya, hanya baru tahu dan mengenal islam sampai dikulitnya saja.
Saya juga sempat miris didalam hati, kenapa?… karena yang saya tahu kedudukan Al-Quran didalam Islam adalah sangat tinggi, ibaratnya inilah pedoman atau undang-undang dasarnya umat Islam, lalu AsShunnah (hadist) dan buku-buku tuntunan pedoman islam lainnya hanyalah penguat dan peraturan secara terinci saja. Namun pada kenyataannya, banyak aliran yang ada saat ini malah membuat AsShunnah dan buku-buku buatan syekhnya untuk melawan dan menentang Al-Quran, bahkan ada yang berani menambah-nambahi syari’at yang di tentukan oleh Allah SWT.
Bermodalkan gelar syekh, dan belajar sama guru dan ulama mumpuni mereka berani mengarang kitab, yang isinya menambah-nambahi apa yang sudah digariskan Al-Quran, membodohi pembaca dan pengikutnya yang awam dimana pengikutnya ini bahkan sama sekali tidak tahu apa itu isi kandungan dari surat Al-Fatihah. Parahnya orang-orang seperti ini (orang-orang yang belajar islam langsung dari buku tanpa menoleh ke Al-Quran) udah sangat hebatnya berani memberi label “HARAM” dan “HALAL” pada suatu permasalahan syar’i dengan hanya bermodal buku karangan si syekh, padahal bukan tidak mungkin mereka tidak membanding kembali dengan Al-Quran.
Saya memang bukan ulama, saya hanya orang biasa, namun telah banyak orang-orang sok ulama, ustadz dsb yang mati kutu kala berdialog dengan saya. Mati kutu disini, saya telah membuktikan di depan mereka dan pengikutnya bahwa yang mereka gembar-gemborkan itu kebanyakan tidak punya dasar (hanya ego saja isinya) dan bahkan parahnya sampai pernah ada saya menemukan apa yang mereka sampaikan bertentangan dengan Al-Quran, padahal sumbernya berasal dari buku ratusan halaman karangan seorang syekh!! entah darimana itu si syekh, entah pengikut Rasulullah SAW atau termasuk golongan pengikut hawa nafsunya sendiri.
Maaf-maaf, bukannya saya ngga suka atau gimana, tapi saya merasa kasihan terhadap parapengikutnya yang kebanyakan lemah bentengnya, di cekokin buku-buku agama yang tebel tanpa pernah melirik Al-Quran sebelumnya. Bagus kalo emang buku itu bisa membimbing si pembaca awam ke surga tapi bagaimana kalo ternyata buku-buku itu secara indah menuntunnya ke neraka??. Orang yang sama sekali ngga kenal Al-Quran, sebelumnya tiba-tiba saja berani memberi label “HARAM”, “BID’AH”, “SYUBHAT”, “HALAL” dsb terhadap seseuatu persoalan, syar’i ini hebat apa sotoy apa ego??.
Islam yang tadinya indah dan mudah, malah jadi hancur berkeping-keping dan ribet begini. Ramai-ramai para syekh dan ulama yang sekolah Islam sampai tinggi itu mengimplementasikan ilmunya dengan mengarang buku, parahnya buku yang mereka karang lebih sering mengedepankan ego, mereka mengajarkan islam kepada orang-orang awam dengan gaya mereka sendiri tanpa peduli efek-efek yang akan ditimbulkan nanti.Mereka dengan tulisannya meyakinkan pembacanya bahwa dia paham sekali tentang Islam.
Ada satu kasus, dimana seorang teman yang sama sekali tidak kenal sama Al-Quran sebelumnya sekarang udah hebat ngomong haram dan halal, sedangkan saya yang merasa udah lama ngubek-ngubek Al-Quran 114 surat, masih bingung apa sih yang Alloh SWT mau dari kita manusia??, kenapa anjing haram??, gimana dan apa siy isra’ dan mi’raj itu?? Dan banyak lagi.
Sebagian orang memang mencibir, itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, tapi bagi saya itu sangat perlu. Saya perlu tahu peradaban (hikayat) islam dari awalnya hingga saat saya hidup ini, karena saya ngga mau jadi orang islam hanya karena bawaan orang tua. Saya ingin islam karena saya mencari apa yang benar (Al-Haq), saya telusuri sejarah dan peradabannya. Siapapun yang merasa bisa mengajarkan itu, saya datengi beliau dan saya mengucapkan terima kasih atas ilmunya. Apapun sumber yang bisa saya baca tentang itu, saya cari, saya beli atau pinjam dan saya baca. Saya berusaha sekuat tenaga juga mensugesti diri ini bahwa Al-Quran adalah yang paling utama baru yang lainnya. Saya ngga mau seperti yang lainnya, dimana Al-Quran hanya dibaca aja, tetapi buku karangan manusia malah di dalemi pemahamannya, saya bener-bener ngga mau kaya gitu.
Dalam lemari buku, buku-buku islam karangan manusia berceceran dimana-mana, tapi ntah dimana Al-Quran terjemahnya??, sempat terbesit dalam pikiran, apa iya mereka hanya baca buku karangan manusia untuk mengajarkan suatu amalan islam??, lantas Al-Quran ada di nomer berapa??.
Pantas saja, ketika saya mengucapkan suatu perkataan tentang agama dan ketuhanan yang bersumber dari ayat Al-Qur’an (namun saya sengaja tak memberitahukannya), yang mendengarkan malah berasa aneh, padahal mereka remaja dari kalangan masjid. Hati ini pun bergumam, apa iya Al-Quran nya salah??, apa perlu saya menjelaskan “ini saya ambil dari Al-Quran loh”??, apa iya mereka ngga baca (memahami) Al-Quran??. Lantas lagi-lagi hati ini bergumam, saya apa kalian yang sesat??, ahhh sudahlah, sesat atau tidak menurut hemat saya itu hanya urusan Alloh SWT, biarkan saja seseorang mencari jalan kebenarannya.
Biarlah orang mencibir saya sesat, biarkan pula saya dicibir kafir, saya hanya manusia yang sedang berusaha mencari apa sih yang benar??. Bahkan yang paling parah dan membuat saya tertawa, seorang teman pernah berkata bahwa saya ini berpotensi membuat aliran baru dengan ilmu dan pemikiran yang saya miliki. Akhirnya saya berdoa kepada Alloh SWT, semoga “kafir”nya saya ini malah mendapat ridho dari Alloh SWT, amiin.
ud sich..segitunye
hhuhuhu,,,teruskan boz!!!q juga pembaca blog kamu dulu!!!
q juga hanya percaya ma ustadz yang berdasarkan pada Al-Qur’an!!!
karena Al-Qur’an lah yang sampai sekarang masih murni!!!
sekarang dah banyak banget orang yang sudah tidak bisa menerima kebenaran yang bahkan itu dari Al-qur’an!!!
q pernah debat ama seseorang yang ternyata dia adalah guru agama di SMA!!!q dah nyodorin ke dia beberapa ayat Al-Qur’an ke dia!!!dan dia cuman menjawab berdasarkan pemikiran dia dan bahkan tidak sekalipun memberikan dari Hadis bahkan Al-Qur’an!!!
tapi entah mengapa temen2q yang ada disitu malah percaya ma dia,,,dan bilang kalo q ntu cuman “ngeyel”,,padahal kan q begitu mang q merasa punya dasar!!!
dan mereka makin menyalahkan aku setelah mengetahui kalo dia adalah guru agama!!!
huhuhuhu,,banyak banget ejekan yang ditujukan ke gue sampe saat ini,,,hingga q cuman bisa diam kalo dia ngomong salah tentang islam!!!q cuma bisa membenarkan dia n temen2 aq dari batin doang!!!q gak sanggup untuk menyampaikanya!!!dan juga karena sedikit banget yang q ketaui soal islam!!!
kalo kamu baru kulit nya,,,q mungkin baru bolotnya yang rontok aja!!!hohoho
q juga ikut pengajian MTA(majelis tafsir Al-Qur’an),,,disitu ustadz nya hanya menyampaikan hal yang sudah ada di dalam al-qur’an saja!!!tapi entah mengapa semua itu juga dianggap sesat,,,dan banyak banget orang2 di usir dari desa nya karena tidak mau melakukan perbuatan bid’ah seperti tahlil,dll!!!banyak juga yang bahkan tidak boleh solat di masjid di kampungnya!!!
sementara itu dulu,,,hihihihi
otaku blank
klo buat gw orang islam yg penting “kami dengar dan kami taat” kepada apa yg Rasul S.A.W ajarkan karena itu pasti benar dan jgn kaya orang yahudi yg banyak nanya ntar kena kutuk ya ga?
24 March 2009 at 10:45 am
@dEn t0w0:
Assalmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
sy senang skali antum mempunyai keinginan untuk memahami Islam yang murni, yg bukan hanya ikut2an.
Lalu, prtanyaannya adalah, kpd siapa antum akan mencari Islam yg hakiki? Jawabannya tentu kembali kpd Al Qur’an dan As Sunnah (al hadits). Satu yg antum mesti ketahui adalah tentang kedudukan sunnah dalam Islam. Ulama mengatakan, Islam adalah sunnah, dan sunnah adalah Islam. Kenapa, karena Islam tidak akan tegak tanpa sunnah. Bisa dikatakan, al qur’an adalah jalan yg kita tempuh, dan sunnah adalah tali yg kita pegang dg erat agar kita tidak keluar dr jalan tsb.
Pahamkanlah, antum bisa mengamalkan Islam dengan mengetahui sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah jika dikatakan bahwa cukuplah al Qur’an saja sebagai petunjuk. Maka bgm anda mengamalkan rukun Islam spt sholat, zakat, puasa, haji dll. Al Qur’an memang menyebutkan perintah untuk itu semua, tapi kaifiyat (cara) nya, tidak ada! Sunnah lah yg memberi tahu kita. Perintah sholat, adzan, ada di dalam al Qur’an. Tapi bgm dg cara rukuk, bacaan ketika sujud, adakah? Inilah, bagaima kita membedakan benar dan salah. Kembalikanlah pada sunnah Nabi yang mulia dengan pemahaman para shahabat. Kenapa para shahabat? Karena mereka adalah sebaik2 umat. Siapa yg paling ‘alim, taslim, tahkim thdp hukum Islam? Para shahabat!
Telah sampai kpd kita hadits mengenai sebaik2 umat Nabi Muhammad adalah generasi umatku (para shahabat), generasi setelahnya (para tabi’in), dan setelahnya lagi (tabi’ut tabi’in). Dan golongan yg selamat adalah golongan yang sesuai sabda Nabi: ma’ana alaihi wa ashabihi (yang aku dan para shahabatku berada di atasnya).